Saturday, 20 April 2013

Janji



Karya Shinichi Edogawa
 
“....,Janji yahh”. “ia aku pasti akan menepati janjiku..”. (dalam mimpi haru)
“Haru..Haruu…Haru, Heii haru bangun. Sampai kapan kau mau tidur”, Ucap ibu membangunkan ku yang tertidur di dalam mobil. Perlahan-lahan mata ini terbuka dan dengan kondisi mata yang masih mengantuk aku melihat pemandangan lewat jendela mobil. “Haaaaahh.. Indahnya.. Desa memang tempat yang luar biasa” ucapku di dalam hati saat melihat pemandangan desa yang di baluti langit biru dengan awan putih serta sungai yang mebatasi wilayah perdesaan dan wilayah hutan di kaki gunung.

Hari ini aku mengunjungi desa nenek bersama dengan ayah, ibu dan juga adikku. Kami berencana untuk menginap satu minggu disana. Sudah sekitar 5 tahun aku tidak mengunjungi desa ini. Saat itu aku adalah tipe anak pemalu yang tidak pandai bersosialisasi dengan anak-anak di desa. Tapi saat itu aku bertemu seorang anak laki-laki yang kira-kira sebaya denganku. Saito namanya. Aku bertemu denganya saat keluargaku sedang mengunjungi sungai, Saito sebenarnya juga sudah mengenal nenek dan kakek karena Saito adalah salah satu anak yang cukup aktif di desa itu. Entah mengapa aku merasa cukup cocok dengan saito, aku merasa tidak canggung saat di dekatnya, bermain, memancing bahkan menelusuri hutan bersama-sama. Dalam waktu sekejab saja aku sudah bisa akrab dengan saito.
“Nenek..!!” teriak adik ku ketika melihat nenek yang sedang menyapu halaman di rumah yang sederhana tetapi masih terawat itu. “Owh Haru, Hani, lama tidak bertemu, bagaimana kabar kalian” Tanya nenek ketika melihat kami. “Baik nek.” Jawab adik ku dengan logat kekanak-kanakannya. Setelah ngobrol dan istirahat sejenak, aku beserta keluargaku berencana untuk mengunjungi sungai. Di sungai kami bermain-main air dan mata ku sempat melihat sosok yang tidak asing sedang menintip dari belakang pohon.
 
Janji
Tanpa berpikir panjang aku langsung kearah pohon itu dan setelah berjalan agak jauh ke dalam hutan, seseorang memangilku dari arah belakang. Dengan perasaan was-was aku melihat ke belakang dan yang kulihat adalah sesosok anak laki-laki yang lebih pendek dari ku lengkap dengan sandal jepit khas di wilayah desa sini. “Lama tak bertemu, Haru..” ucap anak itu kepadaku. “Saito.. Saito kan?” tanyaku dengan sedikit bingung. “Iyalah, kamu kira siapa lagi, Haru.” Jawab saito dengan wajah yang terlihat kesal bercampur candaan. “Saitooo…!!!!” teriak ku sambil berlari ke arahnya. Tetapi Saito langsung menghindar dan alhasil aku menabrak pohon yang kala itu berada di belakang Saito. “Hahaha.. kamu ngak pernah berubah ya Haru, selalu ceroboh dan langsung betindak tanpa berpikir panjang dulu” Ledek Saito sambil tertawa terbahak-bahak. “Aduh..duh.. kau kejam Saito, kita kan udah lama ngak ketemu, seengak- seengaknya jangan meledeku donk..”. “Hahaha.. maaf, maaf aku Cuma bercanda tadi, maafkan aku yahh..”. “ia ia aku maafkan, tapi saito sudah beberapa lama rasanya tinggi kamu ngak bertambah-tambah yah. Padahal dulu kau lebih pendek dari ku, kan?” Tanyaku kepada saito. Tapi Saito segera berkelit dari pertanyaan itu dan mengantinya dengan pembicaraan lain.

Setelah bercakap-cakap dengan Saito, aku baru ingat kalau aku tadi pergi tanpa berpamitan dengan orang tuaku di tepi sungai. Terpaksa aku harus kembali dan sebelum kembali, saito mengatakan kepadaku untuk datang besok siang ke tepi sungai untuk menepati janji yang dulu dia buat denganku. Aku mengatakan kalau aku pasti akan dating. Tetapi jujur, aku sendiri sudah lupa tentang janji yang aku buat denganya 5 tahun yang lalu. Tapi ya sudahlah pikir ku, karena besok pasti Saito akaan mengatakanya kepadaku.

Esok siangnya saat aku bersama keluargaku sedang menyantap makan siang, tak sengaja aku menyingung tentang pertemuanku dengan Saito. Sejenak ayah, ibu, kakek, dan nenek ku terdiam melihat aku yang menceritakan tentang Saito. “Dimana kau bertemu dengan Saito itu” Tanya ibu kepada ku. “Di sungai, bu, saat kita kesana kemarin” jawabku. “Sebaiknya kau jangan dekati anak yang bernama Saito itu!” bentak ibu tiba-tiba pada ku. “Ibu apa-apaan sih? Kenapa tidak boleh?” tanyaku dengan nada bicara yang cukup keras. “Sudah! Pokonya kau jangan dekati dia lagi, itu saja pesan ibu.” Bentak ibu dengan nada bicara yang semakin keras. “Ibu aneh!” Teriak ku kepada ibu sambil berlari menuju hutan.


Setelah cukup jauh berlari ke dalam hutan, aku baru sadar kalau ini sudah sangat jauh dari sungai. Aku mencoba berjalan kembali tetapi tidak kunjung mencapai sungai, aku mulai putus asa. Langkah kaki ini terasa tidak sanggup lagi berjalan ditambah lagi dengan heningnya hutan yang seakan menelan jiwa ku yang tadinya berani memasuki hutan ini. Samar-samar dari balik hutan aku melihat sesosok bayangan berjalan menghampiriku, “Hewan buaskah?” pikirku. Jantung sudah berdegup kencang dan kaki ini terasa lemas membayangkan bayangan apa yang mendekat itu sebenarnya. Melewati pohon-pohon bayangan itupun berubah menjadi semakin jelas. Saito, wujud asli dari bayangan itu seakan melegakan perasaan takut yang kubayangkan sebelumnya.

“Saito, mengapa kau bisa mengetahui aku ada disini..” tanyaku pada Saito. “Ah..yaa.. hutan ini sudah seperti rumah bagiku, jadi aku tahu letak-letak di hutan ini” jawab Saito dengan sedikit gugup. Ada kejanggalan yang kurasakan dari Saito, walau bagaimanapun, tidak mungkin Saito secara tidak sengaja menemuiku yang teresat ini. Tapi semua pikiran negatif itu aku singkirkan, bagiku yang telah diselamatkan Saito saja ini sudah cukup, tidak peduli alasan apa yang ia katakan ketika menemukan keberadaanku. “Oh ya, Haru.. Hari ini aku akan menepati janji kita, kau masih ingatkan.” Tanya Saito. “Ohw itu, ya tentu, tentu aku masih ingat.” Jawabku kedpadanya. Aku masih belum mengingat janji apa yang aku buat saat itu, tetapi aku akan mencoba mengikuti kemana Saito akan mebawaku dengan harapan aku akan mengingatnya di perjalanan.

Sesampainya di sebuah sisi gunung yang cukup datar , saito menyuruhku melihat kearah desa yang bisa dilihat dari sisi gunung itu. “Lihatlah Haru.. Inilah tempat yang aku janjikan waktu itu.” Ucap Saito kepadaku. Setelah aku melihat ke arah desa, terlihat jelas pemandangan yang sangat indah dari atas sini, beberapa desa yang berbatasan dengan desa nenek, padang bunga yang indah, pola sawah yang sangat teratur terlihat sangat indah dipandang. Setelah terasa cukup memanjakan mata dengan pemandangan itu kami langsung turun gunung yang kala itu waktunya sudah cukup sore.

Di tepi sungai kulihat penduduk desa beserta orang tuaku berkumpul dan ketika melihatku mereka langsung berlari menghampiriku, mereka menanyakan kemana aku pergi tadi dan aku pun menceritakan semuanya. Semua orang seperti tidak percaya akan cerita ku. Karena yang mereka tau Saito telah hilang di hutan 5 tahun yang lalu, dan saat dilakukan pencaharian, yang ditemukan hayalah potongan pakaian Saito yang penuh darah dan bekas gigitan harimau di dalam hutan dan sampai saat in mayatnya belum ditemukan. Aku merasa tidak percaya dengan semua itu mengingat Saito adalah orang yang baru saja aku temui barusan. Lalu di saat aku terbingung, aku melihat bayangan saito di belakang pohon sedang tersenyum dan kemudian menhilang bagaikan roh yang biasa muncul di film-film horor. Esoknya, tersebar kabar kalau tulang belulang saito telah ditemukan penduduk saat sedang mencari ku yang berlari di hutan kemarin. Dengan bukti forensik dan tes DNA dari keluarga Saito membuktikan kalau tulang belulang itu adalah milik Saito.

“Haru besok aku akan membawamu ke sisi gunung, dari sana kau bisa melihat pemandangan desa yang sangat indah.” (Saito)
“Benarkah? Kalau begitu besok kau harus membawaku kesana, Janji yah..”. (Haru)
“Ia aku berjanji” (Saito)


5 tahun lalu aku pernah membuat janji itu dengan Saito. Tetapi esoknya aku terkena demam dan langsung dibawa oleh orang tuakku ke rumah sakit di kota. Sejak saat itu Saito terus menungguku di dalam hutan yang sepi dan hening hingga akhirnya.. ia diterkam hewan buas di hutan. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun sampai saat ini. Ia terus menunggu ku walau wujudnya bukan lagi sebagai manusia, menunggu untuk menepati janjinya yang ia buat denganku 5 tahun yang lalu. Aku berkata dalam hati, “Maaf telah membuatmu menunggu selama ini, Saito. Dan juga.. terima kasih karena telah menungguku selama ini. Kau akan selalu terkenang di hati ini sebagai sahabat yang paling berharga untuk ku. Saito… Sekarang kau sudah bisa tenang, janjimu sudah kau tepati dan jalanmu ke dunia sana juga telah terhubung. Kembalilah ke tempat dimana kau seharusnya. Sekali lagi, maaf dan terima Kasih, Saito”

- - - TAMAT - - -

Persahabatan ini

Adam melangkah pantas menaiki tangga menuju ke tingkat paling atas. Hatinya meronta-ronta agar maklumat yang baru didengarinya hanyalah rekaan semata-mata. Pelajar yang berpusu-pusu menuruni anak tangga langsung tidak menghalang Adam untuk terus berjalan. Waktu rehat baru bermula. Waktu sekarang adalah waktu untuk pelajar berehat dan membuat hal masing-masing.
     Adam menghentikan langkahnya. Cermin mata yang dipakainya dibersihkan dengan baju sekolah yang disarungkannya lalu cermin mata itu diletakkan kembali ke tempat asalnya. Hatinya terus beristighfar. Adam menundukkan pandangan. Lalu meninggalkan tingkat 3 banggunan sekolah itu. kakinya menapak perlahan menuju ke kelas. Adam masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
     Adam melabuhkan punggungnya di atas kerusi kayu yang menjadi tempatnya di dalam kelas 5 Batutah. Matanya terpandang bekalan yang dibawa. Hari ini, dia yang akan membawa bekalan makanan untuk dikongsi bersama Asyraf. Kelmarin, Asyraf yang bawa bekalan makanan. Tugas ini akan mereka lakukan berselang-seli. Rasa yang mencucuk-cucuk perutnya dari pagi langsung hilang apabila teringatkan peristiwa tadi. Adam tidak habis fikir bagaimana Asyraf boleh berjumpa dengan perempuan dalam keadaan yang mesra. Sebelum ini Asyraf tidak begitu. Tapi kenapa hari ini? Adam menyoal sendirian.
     "Adam, ada bawa tak nasi goreng ayam yang anta janji kelmarin?" Asyraf menyapa Adam. Langsung Adam ditarik keluar dari lamunannya. Adam menunduk. Lalu bekalan makanan diletakkan di atas meja Asyraf, iaitu disebelah mejanya.
     "Makanlah. Selera ana dah hilang." Adam bangun lalu meninggalkan Asyraf dalam keadaan terpinga-pinga. Adam mengerutkan dahinya. Pelik dengan kelakuan Adam. Tidak pernah Adam buat begitu kepadanya.

LOCENG berbunyi menandakan waktu persekolahan telah tamat. Adam mengemaskan mejanya lalu dia berlalu keluar dari makmal kimia. Sekali lagi dia meninggalkan Asyraf. Selalunya Adam dan Asyraf bagai isi dengan kuku. Mereka selalu bersama.
     "Adam! Tunggulah." Asyraf memanggil Adam dari belakang. Tapi panggilan Asyraf langsung tidak mematikan langkah Adam yang pantas. Dari tadi dia cuba mengejar Adam yang merupakan antara atlet sukan sekolahnya. 'Berjalan laju mengalahkan zirafah,' Asyraf mengomel dalam hati. Lalu Asyraf mengambil langkah untuk mendapatkan Adam dengan berlari.
     "Adam. Kenapa dengan anta ni?" Asyraf memegang tangan Adam supaya dia berhenti berjalan. Adam merenung tajam ke dalam anak mata Asyraf.
     "Kenapa dengan ana? Anta tu yang kenapa?"
     "Kenapa dengan ana?" Asyraf menyoal kembali. Tidak faham dengan maksud Adam.
     "Anta ingat ana tak nampak apa yang anta buat waktu rehat tadi? Gelak-gelak dengan junior perempuan. Mana Asyraf yang jaga pergaulan yang ana kenal dulu? Ah. Sudahlah!" Adam melepaskan cengkaman Asyraf di lengannya lalu meninggalkan Asyraf bersendirian. Asyraf terpaku. 'Apa yang ada di fikiranmu, sahabat?' Asyraf memandang Adam yang meninggalkannya dengan perasaan sayu. 'Biarkanlah dulu. Esok aku terangkan kepada Adam.' Asyraf cuba menyenangkan hatinya yang gusar kerana tidak percaya akan peristiwa yang baru beberapa saat meninggalkannya.

ASYRAF meletakkan beg sekolahnya di atas kerusi kayu di sebelah Adam. Asyraf memandang Adam. Selalunya pagi-pagi begini pasti mereka akan keluar bertugas di pintu pagar bersama-sama. Mereka akan tukar-tukar cerita akan peristiwa yang berlaku di rumah. Tapi sejak seminggu yang lalu, semua itu telah tiada. Bahkan tiada lagi gelak ketawa Adam untuk didengari. Dalam seminggu itulah Asyraf sudah cuba bermacam-macam cara untuk menerangkan kepada Adam. Tapi, tidak ada apa-apa respon dari sahabat akhrabnya itu. Apa bila ditegur, dia cuba mengelak. Malah kawan-kawan sekeliling pun sudah menyedari kerenggangan hubungan mereka. Asyraf berlalu keluar dari kelas meninggalkan Adam tanpa sebarang kata. Kelmarin ada jugalah dia memberitahu Adam bahawa dia mahu keluar bertugas walaupun Adam hanya buat tidak tahu. Tapi Asyraf malas untuk berbicara. Bukan kerana sudah putus semangat untuk memperbaiki hubungan mereka, tapi dia tidak mahu ganggu Adam buat sementara waktu. Bagi Asyraf, dia mahu Adam punya masa untuk bertenang juga. Tetapi sudah seminggu. Takkanlah hatinya masih begitu?
     Adam yang menyedari pemergian Asyraf terus mengemaskan mejanya untuk pergi ke tapak perhimpunan. Buku teks Bahasa melayu yang hendak disimpan dibawah mejanya di belek-belek. Tiba-tiba terjatuh satu sampul surat di atas lantai. Adam mengambilnya lalu mengerutkan dahinya. Siapa yang bagi ni. Takkanlah peminat. Aku bukannya handsome pun. Adam berdialog sendiri sambil bibirnya tersenyum bak kerang busuk. Menyedari namanya tertera di luar sampul surat itu, Adam terus membukanya lalu membaca surat yang ditulis.

Assalammualaikum warahmatullah wahai sahabatku dari syurga..
sungguh, ana merindui persahabatan kita... ana rindu gelak ketawa anta.. ana rindu masakan anta.. dan yang paling penting, ana rindu nasihat anta... bukankah Adam yang ana kenal adalah seorang hamba Allah yang mulutnya ringan untuk menasihati orang lain... tapi kenapa anta buat ana macam ini? apa yang ada di dalam fikiranmu wahai sahabat?
macam-macam yang ana cuba buat untuk pulihkan hubungan kita.. ana merayu pada anta.. tolonglah dengar penjelasan ana..
junior perempuan yang ana jumpa hari itu hanya pinjam buku 'cinta Habiballah' dari ana.. mungkin anta pelik kenapa kami gelak-gelak.. sebabnya, ada sesuatu yang melucukan yang anta tulis dalam buku itu.. anta ingatkan yang anta pernah pinjam buku tu dahulu dari ana? lepas itu anta tulis pasal apa yang ana buat di kem awal tahun lepas.. peristiwa yang anta anggap lucu itu? masih ingat? junior tu terbaca apa yang anta tulis.. salahkan untuk dia ketawa sebab terbaca apa yang anta tulis? takkanlah ana nak buat muka 'nothing happen' depan dia. mestilah ana senyum kan? semasa ana nak ambil balik buku tu dari dia, kawan dia ada teman dia semasa jumpa ana... mungkin anta tak nampak sebab kawannya duduk di bahagian yang agak terlindung.. kami tak ada apa-apa hubungan.. malah ana hanya anggap dia sebagai saudara seagama sahaja.. tidak lebih dari itu..
berfikirlah wahai sahabat.. jangan bertindak melulu seperti syaitan... tapi bertindaklah seperti kekasih kita, Nabi Muhammad yang sentiasa berfikir sebelum bertindak..
kehadiran anta telah banyak mengubah ana.. malah persahabatan kita sudah tejalin selama 5 tahun.. takkan anta nak robohkan persahabatan ini hanya kerana peristiwa yang kecil itu?
sahabat.. ana masih perlukan anta dalam perjuangan ana ini.. bukankah kita pernah berkata bahawa persahabatan ini terbina semata-mata keranaNya..?
ana mohon maaf jikalau ana ada menyakitkan hati anta dalam ana sedar ataupun tak.. ana masih sayangkan perhubungan kita.. kalau anta maafkan ana.. kita jumpa di depan surau semasa rehat.. kalau anta tak maafkan, jangan datang.. ana faham..

salam sayang, cinta dan kasih: Muhammad Asyraf Syaufiq..

     Adam melipat kembali surat pemberian Asyraf. Air matanya hampir menitis. Ya Allah, apa yang aku fikir selama ini. Maafkan aku sahabat, aku terlalu mengikut nafsu amarahku. maafkan aku. Adam membisik perlahan.

ADAM melangkah laju menuju ke arah surau. Harapnya Asyraf masih ada di situ kerana Adam ada urusan sebentar tadi. Adam memperlahankan langkahnya apabila melihat Asyraf sedang duduk di tangga dihadapan surau.
     "Assalammualaikum. Maaf ana lambat." Adam menyapa Asyraf. Asyraf bangun apabila melihat kehadiran Adam. Lalu dia menjawab salam Adam. Asyraf mengajak Adam untuk mengambil tempat di depan surau. Tanpa teragak-agak, Adam hanya menuruti keinginan Asyraf.
     "Jadi, anta dah maafkan ana?" Asyraf memulakan bicara.
     "Bukan salah anta, ana yang salah sebab bertindak sebelum berfikir. Maafkan ana." Adam tertunduk. Kesal dengan sikapnya. Asyraf terseyum manis. Dia bersyukur kerana Adam sudah sedar akan kesilapannya.
     "Tak apa, salah ana juga sebab pergi tak ajak anta." Angin duha membelai mereka. Asyraf dapat merasakan kedamaikan ketika ini.
     "Persahabatan ini..... Kerana Allah ya?" Adam memandang Asyraf. Mata Adam sudah mula merah kerana kesan menangis.
      "Mestilah. Ana sangat sayangkan anta keranaNya." Asyraf tersenyum dalam menahan air mata. Tanpa disangka-sangka Adam memeluk tubuhnya sambil menangis. Asyraf terharu lalu membalas pelukan Adam. Inilah kali pertama mereka berpelukan dalam keadaan begini. Keadaan yang syahdu dan gembira membaluti mereka.

"EII.. Tengok! Pasangan gay dah masuk kelas!" seorang rakan lelaki bersuara kuat apabila Adam dan Asyraf melangkah memasuki kelas. Adam mengerutkan dahi. Tahulah dia bahawa kata-kata itu ditujukan kepadanya dan Asyraf.
     "Kenapa pula gay?" Adam bertanya. Asyraf mendiamkan diri. Dia hanya berdiri di sebelah Adam.
     "Yalah, aku nampak hampa berpelukan kat depan surau. Eh hampa dua ni. Dah la peluk kat tempat terbuka, kat depan surau pulak tu! Tak malu ka?" Badrul bercakap dengan pelat Kedahnya menceritakan peristiwa yang dilihatnya semasa rehat tadi. Adam terdiam. Otaknya ligat berfikir sambil mencari jawapan yang sesuai untuk makhluk Allah seperti Badrul ini.
     "Salahkah kalau berpelukan? Anta tahu mana haram? Bukankah itu adalah salah satu dari sunnah Rasulullah SAW. Bukan senang nak dapat kawan yang sanggup peluk kita untuk menenangkan kita. Meh sini ana peluk anta untuk bagi anta tenang sikit." Asyraf mendepakan tangannya lalu menuju ke arah Badrul. Badrul mengelak dan bersembunyi di belakang Adam. Satu kelas ketawa dengan sikap Badrul.
      "Eh. hang sabaq la dulu. aku tak habih cakap lagi. Haa... Betul cakap hang. Sunnah Rasulullah SAW. Nasib baik hang ingatkan aku. Tapi aku tak mau lah peluk hang. Cukuplah mak aku yang selalu dok peluk aku." ketawa yang semakin perlahan bertambah kuat kembali atas penerangan Badrul. Badrul mengetuk kepalanya sendiri kerana rahsianya sudah terbongkar.
      "Hasib baik ada Badrul. Kalau tak, tak meriah kelas kita ni. Ni lah sebab ana lagi sayang dekat Badrul ni." Asyraf kembali mendepakan tangannya lalu mengejar Badrul lalu memeluknya. Badrul yang bertubuh cubby itu meronta-ronta agar dilepaskan. Kawan-kawan sekelas hanya ketawa dengan gelagat Asyraf dan Badrul. Setelah melepaskan Badrul. Asyraf lalu mendapatkan Adam lalu tersenyum manis. Adam membalas senyuman Asyraf sambil kepalanya tergeleng-geleng dengan gelagat kelakar kawan-kawannya..
     "Persahabatan ini terbina....." Asyraf bersuara. Lalu memandang Adam..
     "...KeranaNya." Adam dan Asyraf bersuara serentak lalu tersenyum. Indahnya persahabatan ini. Mereka memuji-muji Allah SWT..